Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Anak Bermain Sendiri (Foto: Shutterstock)
Dream - Membawa buah hati main bersama dengan anak lain di playground di rumah kerabat kerap dilakukan. Cara ini biasa dilakukan agar anak bisa belajar sosialisasi, meningkatkan kemampuannya dalam mengatasi masalah serta belajar berempati.
Tapi yang terjadi kemudian si kecil malah tak mau main bersama dan malah menyendiri. Tentu saja hal ini menimbulkan kekhawatiran orangtua. Melihat anak-anak lain bermain bersama, sementara buah hati malah menarik diri dan main sendiri.
Ternyata hal tersebut bukan sesuatu hal yang harus dikhawatirkan. Bisa jadi buah hati memang memiliki kepribadian introvert dan bukanlah hal yang harus 'diperbaiki'.
" Orangtua harus berusaha sangat keras untuk tidak menularkan ketakutan dan perasaan khawatir mereka pada anak-anak. Aku menemukan kecenderungan orangtua yang sangat ekstovert justru yang sangat khawatir melihat anaknya bermain sendiri atau hanya memiliki sedikit teman," ujar Sarah Ockwell-Smith, psikolog yang juga penulis buku Gentle Discipline.
Lebih suka bermain sendiri ini cenderung terjadi pada anak-anak usia dini. Anak-anak di bawah usia empat tahun akan sering terlibat dalam permainan paralel. Saat itulah ada dua atau tiga anak berada di ruangan yang sama bermain berdekatan satu sama lain.
Tetapi mereka bermain permainan yang ada sendirian, dan tidak terlibat dalam permainan yang sama. Seperti dua orang dewasa yang duduk di meja yang sama, tetapi masing-masing menatap ponsel mereka.
Permainan paralel memang sangat penting, karena akan merangsang anak anak bersosialisasi sebelum tahu mengenal norma sosial. Seiring waktu, anak-anak mulai memahami bahwa tidak semua orang berpikir dan merasakan hal yang sama.
" Anak balita sangat egosentris, mereka selalu beranggapan apa yang dipegang adalah miliknya. Membawanya di tempat bermain bersama dengan banyak anak akan memunculkan kecerdasasan emosi, di mana ia harus bergantian, berbagi mainan atau mengantri," ungkap Smith.
Sumber: Fatherly
Advertisement
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Pertamina dan MedcoEnergi Ambil 10% Hak Partisipasi Sumur Gas di Kaltim Milik Eni S.p.A

Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan


Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor

Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym


5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?