Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Menangis kencang, menendang, memukul orang di sekelilingnya bahkan hingga berguling di lantai. Pernah menghadapi situasi saat si kecil berperilaku demikian?
Mengamuk tak terkendali atau dikenal dengan tantrum kerap terjadi pada anak usia 2 tahun. Bahkan penelitian menyebutkan 60 hingga 90 persen anak usia 2 hingga 4 tahun selalu mengalami tantrum.
Puncaknya pada usia 2,5 hingga 3 tahun. Saat usia 5, tantrum akan berkurang karena mereka sudah bisa mengenali emosinya dan menyampaikannya dengan baik.
Ada banyak hal yang bisa memicu tantrum. Banyak orangtua yang mengira hal tersebut dipicu karena sikap disiplin atau pelarangan dari orangtua. Tapi pencetusnya lebih kompleks dari hal tersebut. Berikut 3 di antara pemicu tantrum yang sering terjadi.
1. Kelelahan atau mengantuk
Anak usia 2 hingga 4 tahun tak tahu kalau ia lelah dan mengantuk artinya harus beristirahat. Sehingga saat diajak bermain, makan atau hal lain, bukan merespons dengan baik anak malah menangis dan tantrum. Sebaiknya orangtua peka dengan kondisi fisik anak. Jika dirasa ia sudah lelah dan butuh istirahat, segara ajak untuk tidur siang.
2. Tak dihiraukan orangtua
Anak sangat peka terhadap sikap orangtuanya. Misalnya, saat si kecil ingin menunjukkan mainan barunya pada sang ayah, sementara ayahnya masih sibuk berkutat dengan laptop atau gadget dan tak mendengarkan, anak bisa jadi sangat kecewa. Jangan heran kalau anak juga berulah dan mengamuk.
3. Diburu-buru
Terkadang karena dikejar waktu, kita meminta si kecil untuk menyelesaikan aktivitasnya secara cepat. Saat main, mainannya dibereskan secepatnya atau langsung dimandikan dan dipakaikan baju tanpa jeda. Faktanya anak balita tinggal dalam dunia yang lambat, menikmati tiap momen, selalu ingin bermain.
Memaksanya dalam situasi yang diburu-buru akan membuat stres. Hal ini tentu berdampak pada kestabilan emosinya dan efeknya menjadi tantrum.
Sumber: Simple Most
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?

Suka Camilan Gurih Dan Renyah? Ini Pilihan Untuk Temani Aktivitas Sehari-hari