Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Terompet Tahun Baru (Foto: Merdeka.com/Imam Buhori)
Dream - Wabah penyakit difteri yang disebabkan bakteri corynebacterium, sampai saat ini masih jadi hal yang paling ditakutkan para orangtua. Apalagi penyakit tersebut sangat mudah menular. Beberapa provinsi juga sudah ditetapkan sebagai daerah KLB (Kejadian Luar Biasa) karena penderitanya cukup banyak hingga ada yang meninggal dunia.
Perasaan khawatir pun makin menjadi dengan beredarnya kabar soal terompet jelang tahun baru seperti saat ini. Muncul pesan berantai melalui media sosial dan aplikasi chatting soal
terompet yang bisa menyebarkan penyakit berbahaya, termasuk difteri.
Terkait hal ini dr. Arifianto Apin, seorang spesialis anak yang praktik di RSUD Pasar Rebo memberi penjelasan. Menurutnya, penyakit difteri memang mudah menular melalui udara yang
disebar melalui bersin oleh penderita, kemudian terhirup oleh orang lain termasuk anak-anak.
"Anak-anak cenderung lebih mudah tertular karena sistem kekebalan atau imunitas tubuhnya tidak sebaik orang dewasa. Sehingga mereka lebih mudah sakit. Faktor imunitas ini juga
dipengaruhi oleh status vaksinasinya," ungkap dr. Apin saat dihubungi Dream.co.id.
Menurut dokter yang juga menulis buku "Berteman dengan Demam" ini, risiko penularan difteri melalui terompet, sangat tergantung dari kontak dengan penderita dan seberapa cepat
memapari orang lain termasuk anak-anak.
"Misalnya ada penderita difteri yang menggunakan terompet, kemudian melepaskan kuman melalui air liur, lalu terompet itu digunakan oleh orang lain. Penularannya bisa terjadi jika
jeda penggunaannya keduanya tidak lama. Intinya adalah seberapa cepat penggunaannya satu sama lain," ujar dr. Apin.
Penularan difteri melalui udara, menurut dr. Apin, justru lebih mudah dibandingkan melalui terompet. Hal ini karena penderita melepaskan bakteri ke udara, melalui bersin atau dahak, yang kemudian bisa terhirup dan menulari orang lain. Kuman difteri ini lalu menginfeksi saluran pernapasan.
"Dalam hal ini tentunya pencegahan jauh lebih baik. Anak-anak yang belum mendapat vaksin difteri harus segera divaksin, untuk status vaksinnya yang belum lengkap harus dilengkapi.
Periksa detail buku vaksinnya. Apabila memang sudah lengkap dan tidak berada di area KLB lalu ingin booster vaksin, maka jauh lebih baik lagi," pesan dr. Apin.
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

Sambut Tren Warna 2027, JOTUN Hadirkan 24 Warna dalam Koleksi JOURNEYS

Sering Mengalami Suduken Saat Olahraga? Ini Penyebab dan Cara Cepat Meredakannya

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'