Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Tumpukan Pakaian Lama Yang Sudah Tak Terpakai (Foto: Shuterstock)
Dream - Rumah jadi tempat utama mendapatkan energi positif. Mengembalikan lagi semangat serta rasa tenang setelah beraktivitas di luar yang sangat menguras emosi dan fisik.
Sayangnya, pada beberapa kondisi, rumah malah berdampak sebaliknya. Memancarkan energi negatif, membuat tubuh malas, merasa lelah dan jadi sumber kecemasan.
Hal ini diungkapkan oleh Marie Kondo, pakar penataan rumah asal Jepang yang terkenal metode merapikan rumah, Konmari Method.
Menurutnya, kekacauan penempatan barang di rumah dan kecemasan penghuninya saling terkait. " Tumpukan pakaian lama yang sudah tak terpakai, perabot rumah tangga yang berdebu bertahun-tahun mengambi tempat di rumah dan merenggut kebahagiaan penghuninya," ungkap Kondo, dikutip dari Apartment Theraphy.
Melalui metodenya, Marie mengajak banyak orang untuk hidup lebih minimalis. Tak menumpuk barang, membuang yang tak lagi dipakai, dan hanya menyimpan barang yang fungsional. Hal ini akan berdampak positif bagi kesehatan fisik dan mental.
Kondisi rumah yang penuh barang dan berantakan pasalnya bakal jadi masalah mental berkepanjangan. Efeknya juga 'menular' pada kesehatan fisik. Sebagai contoh, sebuah penelitian Cornell University menemukan bahwa orang yang tinggal di lingkungan yang berantakan dan kacau mengkonsumsi lebih banyak junk food.
Studi lain oleh Princeton Neuroscience Institute menemukan bahwa dalam ruang yang tidak teratur orang lebih mudah stres, terganggu, dan pada gilirannya menjadi kurang produktif.
Kondisi rumah yang sangat berantakan juga meningkatkan kadar hormon stres pada ibu. Hal ini menurut laporan " Life at Home in the Twenty-First Century: 32 Families Open Their Doors," yang ditulis oleh tim dari UCLA's (University of California), Los Angeles.
" Berada dalam kekacauan membuat orang cemas. Ketika tidak ada keteraturan di kamar, apartemen, atau rumah level kecemasan akan terus meningkat. Kecemasan bakal berkurang secara alami ketika Anda mengatur, membersihkan, dan merawat rumah. Keadaan pikiran Anda adalah cermin langsung dari lingkungan hidup Anda," kata Katie Ziskind, seorang terapis keluarga holistik di Wisdom Within Counseling, Connecticut.
Mengatur lingkungan fisik, membuang barang yang menumpuk dan tak menimbulkan kebahagiaan akan membuat mental lebih baik. Bisa mengurangi, stres, kecemasan dan menciptakan area fisik yang bisa membuat pikiran jadi lebih rileks.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun