Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© MEN
Dream - Kementerian Pariwisata menyatakan proses pembangunan 10 destinasi wisata prioritas, atau akrab dikenal dengan sebutan 'Bali Baru' kini terus berjalan. Saat ini, pemerintah tengah fokus pada pembangunan 4 dari 10 Bali Baru.
Ketua Pokja Bidang Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Prioritas Kemenpar, Hiramsyah S. Thaib, mengatakan keempat destinasi ini telah mengantongi status sebagai Kawasan Ekonomi Khusus.
" Dari aspek kelembagaan atas pengelola 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (atau lebih dikenal sebagai 10 Bali Baru, 4 Destinasi telah berstatus KEK," kata Thaib, melalui keterangan tertulis diterima Dream.
4 Bali Baru yang dimaksud yaitu Tanjung Lesung Banten, Mandalika NTB, Morotai Maluku Utara, dan Tanjung Kelayang Belitung.

Sementara 3 Bali Baru kini telah memiliki Badan Otoritas Pariwisata. Ketiganya yaitu Danau Toba Sumatera Utara, Borobudur, dan Labuan Bajo, Flores.
Sementara dua Bali Baru terakhir yaitu Bromo Tengger Semeru Jawa Timur dan Wakatobi Sulawesi Tenggara kini sedang dalam tahap menuju pengesahan menjadi Badan Otorita.
" Dari sisi aspek ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, telah terjadi peningkatan Pendapatan Asli Daerah yang sangat tinggi seperti misal di Kabupaten Samosir sebesar 81,2 persen dan Kabupaten Belitung sebesar 41,21 persen, Kabupaten Pandeglang, Banten (Tanjung Lesung) sebesar 94,77 persen dan Kabupaten Manggarai Barat, Labuan Bajo sebesar 35,41 persen," kata Thaib.
Terkait dengan penerimaan negara, kata Thaib, sektor pariwisata secara keseluruhan menjadi penyumbang pendapatan terbesar kedua setelah CPO pada 2017. Jumlahnya mencapai Rp202,13 triliun, melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp200 triliun.
" Pariwisata akan menjadi sektor unggulan dan diproyeksikan 2019 menghasilkan devisa terbesar mencapai hingga US$20 miliar (setara Rp301,94 triliun). Dampak peningkatan di sektor ini akan dirasakan langsung oleh semua lapisan masyarakat," kata Thaib.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya