Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Alun-Alun Kota Wisata Batu (KWB) (Foto: Facebook/Kemenpar)
Dream - Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya di mana-mana selalu menyebut faktor CEO Commitment atau keseriusan kepala daerah dalam memprioritaskan pengembangan pariwisata itu paling penting. Bahkan kalau dibobot, persentasenya mencapai 50%. " Kalau bupati, walikota dan gubernurnya commited, maka pariwisata akan cepat maju," sebut Menteri Pariwisata Arief Yahya, dikutip dari keterangan pers tertulis, Minggu 11 Juni 2017.
Dia mencontohkan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang serius menjadikan wilayahnya sebagai destinasi wisata. Saat ini ekonomi masyarakat Banyuwangi banyak ditopang sebagai destinasi wisata. Begitu juga Bupati Belitung, H. Sahani Saleh, S. Sos. yang sangat getol menjaga wilayahnya sebagai destinasi wisata.

Kota Batu, rupanya juga serius memformat kotanya menjadi destinasi wisata andalan di Jatim. Sampai-sampai, Alun-Alun Kota Wisata Batu (KWB) pun menjadi salah satu tempat favorit saat ngabuburit di bulan puasa ini. Terbukti sampai Kamis, 8 Juni ratusan pengunjung masih memadati tempat populer yang kerap dikunjungi wisatawan luar kota itu. Sepertinya tak berbeda dengan hari-hari di luar bulan Ramadan.
Pasti, ini juga ada tangan-tangan Dewanti Rumpoko, Walikota Batu yang serius menggarap daerahnya sebagai destinasi wisata. Lokasi alun-alun itu strategis, ditambah suasana kota yang sejuk yang menjadikan kawasan alun-alun menjadi titik kumpul para wisatawan.
Bagi para wisatawan yang ingin berbuka, mereka bisa langsung menuju pusat kuliner yang berjejer sepanjang Jalan Sudiro, Jalan Munif, atau Jalan Kartini. Atau mereka bisa menjalani sholat Maghrib lebih dulu di Masjid Agung An-Nur di Jalan Gajah Mada, yang letaknya berseberangan dengan alun-alun.

Aprilia Dzahabi, warga Singosari, Kabupaten Malang menjadi salah satu pengunjung yang melewatkan waktu ngabuburitnya di Alun-Alun Kota Wisata Batu. Aprilia sengaja datang ke Alun- Alun Batu untuk ngabuburit bersama temannya. Dia menerangkan, suasana salah satu ikon Kota Batu ini sejuk dan memiliki banyak tempat santai. " Di sini (alun-alun) sejuk. Jadi cocok untuk nunggu buka puasa (ngabuburit). Tapi yang paling seru waktu naik bianglala," kata dia di sela-sela menikmati wahana bianglala Alun-Alun Batu.
Hal senada juga disampaikan Ali Quraisi, wisatawan asal Kalimantan. Dia menyatakan, suasana sejuk di alun-alun membuatnya betah dan tubuhnya jadi lebih fresh meski sedang berpuasa. " Meski muter-muter (di alun-alun), rasa lelahnya tidak terasa karena hawanya yang sejuk," ucapnya.
Tak jauh berbeda degan Syahrul, pemuda asal Surabaya ini juga menikmati betul suasana puasa di Kota Batu. " Saya sebenarnya sedang ada meeting di Kota Malang selama dua hari, tapi saya sempatkan naik ke Batu, ternyata memang terasa enak di sini. Waktu berbuka puasa juga tidak sulit mencari makanan berbuka. Karena kulinernya lengkap di sini. Demikian pula untuk shalat Maghrib, sudah dekat dengan masjid," katanya.

Sementara itu, petugas bianglala Alun-Alun Kota Batu menyatakan, jumlah pengunjung diperkirakan akan meningkat setelah 10 hari puasa. Bahkan, kenaikan itu bisa mencapai dua kali lipat. " Awal puasa rata-rata 50-an orang per hari. Tapi setelah puasa sepuluh nanti bisa dua kali lipat. Ini pengalaman tahun lalu," terang pria yang bekerja di bianglala sejak 2011 ini.
Hanya saja, masih kata dia, setelah sholat Tarawih pengunjung juga mulai berdatangan ke alun-alun. Sebagian besar pengunjung ini dari warga Batu. " Kalau wisatawan sedikit. Biasanya orang pulang dari masjid (sholat Tarawih)," ungkapnya.
Sedangkan selama waktu sholat Tarawih berlangsung, lanjutnya, wahana di alun-alun tidak beroperasi sementara. Baru dibuka lagi setelah sholat Tarawih. Sehingga, semua wahana disterilkan dari pengunjung. " Kami ingin menghormati warga yang beribadah di bulan puasa," ujarnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya