Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Baraya Pasundan)
Dream – Melihat orang Indonesia bermain alat musik tradisional seperti Arumba dengan komposisi, angklung, bass bambu ataupun gambang sudah merupakan hal biasa. Namun apa jadinya kalau yang bermain angklung Arumba khas Indonesia itu adalah orang asing? Orang asli Osaka, Jepang?
Nah, pemandangan seperti itu bisa disaksikan di One World Festival di Osaka, Jepang. Di hadapan ribuan orang yang memadati Kansai TV Ogimachi Square, tujuh wanita berkebaya mampu mempertunjukkan aksi keren. Dari Bengawan Solo, Rayuan Pulau Kelapa, Indonesia Pusaka, Jinggle Disneyland, hingga lagu-lagu Jepang, dibawakan dengan sangat baik. Yang mencengangkan, yakni para pemainnya. Mereka bukan orang Indonesia. Yang tampil, justru orang Osaka tulen. Semuanya Jepang tulen!
" Nama grupnya Pasir Bintang. Mereka sering kami libatkan dalam tiap event yang berbau Indonesia," terang Konjen RI Osaka, Wisnu Edi Pratignyo, dikutip dari keterangan pers tertulis.
Menggandeng orang Jepang bermain angklung Arumba khas Indonesia di Osaka? Di markasnya Kansai TV yang notabene merupakan salah satu televisi besar di Jepang? Budgetnya pasti mahal. Anggaran yang disiapkan pasti tidak sedikit. Apalagi, semua alat musik bambunya dibawa dari Indonesia.
" Justru biayanya sangat irit. Semua alat musiknya mereka sendiri yang bawa dari Indonesia. KJRI hanya memberikan transport dari rumah masing-masing di Osaka ke Kansai TV Ogimachi Square. Kostum juga mereka sendiri yang menyiapkan. Untuk Indonesia, mereka memang nggak perhitungan. Ini yang bikin saya salut," tambah Konjen Wisnu.
Perkenalan grup Pasir Bintang dengan angklung Arumba ini ternyata sudah dimulai sejak 1996. Saat itu, founder angklung Arumba, Fujino Takami, yang belajar langsung ke Budi Rahma, seorang seniman angklung di Indonesia. Belajarnya pun di Indonesia. Siapa sangka, perkenalannya dengan angklung berlanjut hingga kini. Tak sekadar memainkan, Fujino Takami juga berusaha menjaga kelestarian alat musik multitonal khas Indonesia itu dari Negeri Sakura.
" Sejak mendengar pertama kali alunan angklung di Indonesia saya langsung jatuh cinta. Angklung adalah alat musik ini yang menyatukan banyak orang. Suaranya juga sangat indah dan merepresentasikan Indonesia," terang founder Pasir Bintang, Fujino Takami.
Berlebihan? Rasanya tidak. Bukti nyatanya sudah pernah diukir pada 9 Juli 2011. Saat itu, Indonesia berhasil menggalang pembuatan rekor dunia " Guinness World Records" untuk permainan angklung dengan peserta multibangsa terbanyak. Ada lebih dari 5.000 orang ikut memainkan lagu " We Are the World" di Taman National Mall - Washington Monument, Amerika Serikat.
Pada peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika (KAA) 2015, rekor dunia tadi kembali dipecahkan di Bandung. Di hadapan sejumlah pemimpin dunia, rekor dunia angklung dimainkan 20.000 orang di Stadion Siliwangi, Bandung. Pada acara " Angklung for the World" tersebut dibawakan berbagai genre lagu dari mulai lagu kebangsaan hingga lagu Barat. " Angklung itu alat musik tradisional yang sangat fleksibel karena dapat mengikuti perkembangan musik dunia. Dari lagu Indonesia, barat, sampai Jepang bisa dimainkan dengan angklung," lanjut Takami.
Karenanya sejak belajar dari Budi Rahma, seorang seniman angklung dari Indonesia pada 1996 silam, alumnus Osaka Kyoiku University itu tak pernah berhenti mengagumi alat musik dari bambu tersebut. Bahkan dia tak segan membawa Arumba (Alunan Rumpun Bambu, red), dari Indonesia ke Osaka. Semua dilakukan dengan biaya sendiri. Angklung, gambang, dan bass lodong dari Indonesia itu kini selalu dibawa Fujino saat tampil di berbagai penjuru Jepang.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya