Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock.com)
Dream - Mendengar kata turbulensi, kita segera terbayang situasi menakutkan di dalam pesawat. Kondisi pesawat terguncang akibat tidak adanya tekanan udara bisa membuat jantung terasa copot.
Tetapi, turbulensi sebenarnya merupakan situasi yang umum terjadi dalam dunia penerbangan. Meski dalam beberapa kasus turbulensi bisa berbahaya, situasi ini tidak perlu dikhawatirkan.
Para pilot sudah terlatih menangani kondisi pesawat ketika mengalami turbulensi. Bahkan, pilot kini sudah bisa mendeteksi potensi turbulensi melalui bantuan radar sehingga bisa mengantisipasi sejak awal.

Dikutip dari mentalfloss.com, turbulensi adalah gerakan udara yang tidak beraturan akibat perbedaan tekanan atau suhu. Seperti halnya angin, gerakan turbulensi kadang lambat hingga tidak terasa sama sekali.
Tetapi, turbulensi juga bisa kencang hingga membuat kabin pesawat terguncang. Namun umumnya saat terjadi turbulensi, guncangan kabin pesawat tidak terasa sama sekali. Jika terasa, mungkin hanya guncangan kecil.
Sebelum terjadi, pilot sudah bisa memprediksi terjadinya turbulensi. Ada beberapa cara yang dipakai para pilot seperti mengandalkan prakiraan cuaca.

Prakiraan cuaca cukup membantu untuk deteksi turbulensi. Meski demikian, pilot tidak dapat menentukan secara pasti kapan dan di mana turbulensi berlangsung.
Sifat turbulensi sendiri bisa menyebar atau hanya di lokasi tertentu saja. Mengenai kondisi, pilot punya tiga cara untuk melakukan deteksi dini.
© Dream
Jika bentuk awan tinggi dan vertikal dan atau bertambah tinggi, maka ada kemungkinan ada turbulensi di sekitarnya. Semakin cepat awan meninggi, kemungkinan guncangan yang timbul akibat turbulensi semakin buruk.
Turbulensi saat pesawat masuk ke dalam awan sangat berbahaya. Karena bisa saja di dalam awan itu muncul badai petir yang bisa membelah sebuah pesawat.
© Dream
Jika suhu udara tiba-tiba meningkat dan menjadi panas, maka akan terjadi turbulensi yang disebut dengan Convection Turbulence. Tergantung pada suhu dan ketinggian pesawat, Convection Turbulence ini bisa menyebabkan ketidaknyamanan bagi penumpang.

© Dream
Arah angin di gunung bisa meluncur secara tajam saat pesawat lewat di atasnya. Kondisi ini bisa memicu terjadinya turbulensi. Perubahan arah angin di gunung bahkan bisa jatuh sampai bermil-mil.
Penumpang tidak perlu khawatir karena pilot sudah dilatih untuk mengatasi masalah turbulensi. Biasanya, pilot akan memperlambat laju pesawat atau mengubah ketinggian.
Kecelakaan akibat turbulensi biasanya terjadi karena penumpang duduk namun tidak menggunakan sabuk pengaman. Bisa juga karena sedang berjalan di lorong pesawat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya