Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Formasi Bebatuan Aneh (Foto: Xv15tau/Flickr)
Dream - Di banyak tempat di Tyrol Selatan, di Italia utara, orang dapat melihat formasi geologis yang aneh yang disebut " piramida bumi" . Mereka terdiri dari pilar berbentuk kerucut yang terbuat dari tanah liat, dengan bebatuan bertumpuk di atasnya.
Struktur yang tidak biasa ini mulai terbentuk dari tanah liat moraine yang tertinggal setelah Zaman Es terakhir akibat gletser meleleh. Dalam kondisi kering, tanahnya mengeras seperti batu. Tapi begitu hujan turun, ia berubah menjadi massa berlumpur yang lembut, mengalir, dan membentuk lereng besar setinggi 10 sampai 15 meter.
Saat musim hujan dimulai, lereng ini terkikis. Tapi karena ada batu, tanah liat di bawahnya menjadi tetap terlindungi dari hujan. Jadi, sementara material di sekitarnya terus terbawa hujan, pilar-pilar yang diproteksi terus tumbuh dari tanah hingga membentuk piramida yang megah. Diperlukan ratusan sampai ribuan tahun agar piramida ini terbentuk.
Namun sayangnya, pilar-pilar itu terus terkikis. Pada beberapa titik, terlihat pilar-pilar mulai kehilangan kekuatan untuk menahan batu besar di atasnya. Begitu batu jatuh dari puncak, pilar pun akan terkikis dengan cepat.
Piramida bumi unik ini hanya ada di Tyrol selatan, namun areanya cukup luas. Yang terbaik terletak di Ritten, sebuah dataran tinggi yang tidak jauh dari Bozen di Italia utara. Piramida bumi juga ditemukan di area Platten, dekat Percha di Lembah Puster.
(Sumber: amusingplanet.com)
© Dream
Dream - Siapa yang menyangka jika salah satu Taman Nasional di Sulawesi menarik perhatian media asing. Seperti dilansir dari Amusing Planet, disebutkan bahwa sekitar 15 km di selatan Taman Nasional Lore Lindu terdapat sebuah kawasan yang disebut Lembah Bada.
Di tempat itu terdapat beberapa ukiran megalitikum berbentuk sosok manusia yang mengingatkan pada patung Moai di Easter Island. Patung-patung ini memiliki tubuh lurus, dengan kepala besar dan mata bulat. Serta satu garis yang mengidentifikasi alis, pipi dan dagu.
Kebanyakan dari mereka dikuburkan sendiri-sendiri di ladang. Dan banyak yang tersamarkan oleh rumput panjang. Sejauh ini lebih dari 400 ukiran telah ditemukan di daerah tersebut. Namun hanya ada sekitar 30 saja yang berbentuk figur manusia.
Meskipun situs ini ditemukan lebih dari dari 100 tahun yang lalu, namun hanya sedikit saja informasi yang didapatkan mengenai pembuatan arca-arca itu. Bahkan hingga saat ini belum terkuak kapan situs megalitikum ini mulai diukir. Meskipun banyak yang mengira-ngira bahwa berkisar antara 1000-5000 tahun lalu.
Megalitikum tersebut telah ditemukan oleh penduduk Sulawesi selama berabad-abad lalu, bahkan jauh sebelum Eropa datang ke sana. Saat dilihat lebih jauh, berdasarkan kelamin yang terukir pada patung ternyata mereka juga memiliki nama.
Sebuah patung laki-laki paling besar berukuran 4 meter dinamai Palindo yang berarti Penghibur. Sedangkan patung perempuan yang memiliki panjang 1,8 meter disebut sebagai Langke Bulawa atau Gelang Emas.
Banyak cerita yang berkembang seputar patung-patung ini. Contohnya seperti cerita Palindo akan marah saat terjadi perkelahian yang berkecamuk di antara suku-suku lokal dan mengganggu ketenangannya.
Namun ada juga cerita tidak menyenangkan seperti karakter Tokala'ea yang diceritakan pada mulanya adalah tubuh pemerkosa yang menjadi batu. Lekukan mendalam pada patung seperti menggambarkan bekas luka akibat goresan pisau.
Sedangkan patung yang bernama Tadulako dipercaya sebagai pelindung desa awalnya tetapi lama-kelamaan menjadi batu akibat mencuri beras. Selain patung-patung yang membentuk figur manusia, ada peninggalan megalitikum lainnya yang disebut Kalba yaitu sebuah lingkaran batu-batu menyerupai pot dan tangki air.
Menurut cerita rakyat, tempat itu bernama Kalambas yang dulunya berfungsi sebagai bath up kuno, yang pernah digunakan oleh para raja. Namun Kalambas juga kerap dipakai sebagai pot penyimpanan stok makanan. Hal ini berdasarkan pada penemuan lainnya, dimana beberapa Kalambas juga disertai batu berongga yang kemungkinan digunakan untuk grinding makanan.
Namun anehnya, di kawasan ini tidak ditemukan alat-alat atau sisa-sisa pemukiman yang menjadi bukti bahwa ada peradaban masyarakat yang pernah tinggal di situ.
(Sumber: Amusingplanet.com)
© Dream
Dream - Pada pertengahan 1800-an, peternak di Sioux County, di negara bagian Nebraska, Amerika Serikat, mulai menggali struktur spiral aneh dari bahan batuyang mengeras dan menempel secara vertikal dari tanah. Spiral itu setebal sebuah lengan dan beberapa di antaranya lebih tinggi daripada seorang pria. Karena tidak tahu apa itu, para peternak mulai menyebut mereka " pembuka botol iblis" .
Kabar tentang penemuan struktur yang aneh itu kemudian sampai pada komunitasilmiah melalui ahli geologi Dr. E. H. Barbour pada tahun 1891, ketika dia diminta untuk menyelidiki spesimen sepanjang sembilan kaki yang ditemukan oleh peternak setempat di propertinya di sepanjang Sungai Niobrara.

Barbour menemukan bahwa spiral itu sebenarnya adalah tabung berisi pasir dengan dinding luar yang terbuat dari bahan berserat putih. Barbour tahu jika itu adalah fosil namun masih belum meyakininya. Dia pun menamakan penemuan itu sebagai Daemonelix, dalam bahasa Latin yang artinya 'pembuka botol iblis'.
Tahun berikutnya setelah penemuan tersebut, Barbour mengemukakan teori pertamanya. Bahan berserat dari sekrup memberinya petunjuk pertama, sementara sejarah geologi kuno di sekitarnya, dimana tempat sekrup ini ditemukan, menjadi petunjuk selanjutnya. Barbour memutuskan bahwa Daemonelix pasti merupakan akar dari spons air tawar raksasa yang tumbuh subur di danau air tawar yang sangat besar, yang dulu pernah menutupi kawasan ini.

Untuk sementara, teori tersebut masih kurang meyakinkan. Satu hal yang membingungkan komunitas ilmiah saat itu adalah adanya tulang hewan pengerat di dalam temuan itu. Penelitian lebih lanjut juga mengungkapkan bahwa batuan yang mengelilingi fosil Daemonelix memiliki lebih banyak kesamaan dengan padangrumput semi kering daripada dengan danau, yang mendorong Barbour untuk menyimpulkan bahwa spiral itu adalah jenis tanaman raksasa yang baru. Tapi itu adalah tulang tikus yang akhirnya meruntuhkan teori tanaman fosil.
Pada tahun 1893, Edward Drinker Cope dan Theodor Fuchs secara independen menyimpulkan jika Daimonelix adalah sisa-sisa liang spiral kuno yang dipenuhi pasir dan lumpur. Tulang yang ditemukan di dalam fosil itu adalah milik tikus yang menggali dan terkubur di dalamnya. Tapi Barbour tidak akan menyerah pada teori fosilnya. Dia berpendapat bahwa bentuk " pembuka botol iblis" itu terlalu sempurna untuk dibangun oleh makhluk pada masa itu.
Perselisihan tersebut berakhir dengan ditemukannya bekas goresan di bagian dalam spiral yang menunjukkan bahwa seekor hewan telah mencakar dari tanah yang lembap. Pada tahun 1905, hewan-hewan yang bertanggung jawab atas pembuatan itu diidentifikasi sebagai genus berang-berang yang telah punah bernama Palaeocastor yang hidup di Badlands Amerika Utara sekitar 22 juta tahun yang lalu.

Palaeocastor berukuran seperti woodchucks atau lebih kecil. Mereka memiliki ekor pendek, telinga dan mata kecil, seperti gophers, tetapi cakarnya panjang dan memiliki gigi depan yang luar biasa panjang, yang tumbuh dengan cepat untuk melawan keausan akibat penggalian.
Bukti menunjukkan bahwa berang-berang menggali, memperbaiki kaki belakangnya pada poros spiral dan membungkuk lurus ke bawah tanah. Beberapa kaki di bawah tanah, liang itu terbentang ke beberapa sisi kamar untuk tidur dan membesarkan anak. Beberapa liang juga menjadi ruang tempat tinggal yang berbentuk miring, yang mungkin membuat sisa-sisa Palaeocastors selamat dari banjir.

Strktur spiral ini juga memberikan perlindungan Palaeocastors dari predator yang tidak dapat mengimbangi mereka di liang yang miring. Struktur spiral juga memudahkan Palaeocastor mendorong kotoran ke atas spiral.
Palaeocastors mati pada Zman Oligosen ketika ekosistem planet berubah dari iklim basah ke iklim tropis kering yang didominasi padang rumpur.
Dan kini, kamu dapat mengunjungi situs dimana fosil itu berada dan menyusuri Daemonelix Trail untuk melihat sendiri beberapa lubang Palaeocastors yang masih ada di sisi bukit.
(Sumber: amusingplanet.com)
Advertisement

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha