Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Laporan The State of The Global Islamic Economy 2017/2018 menempatkan Indonesia di peringkat ke-4 berdasarkan kriteria Indikator Ekonomi Islam Global (GIEI), termasuk pariwisata halal inbound, ekosistem ramah muslim, media dan acara yang mendukungnya.
Berdasarkan laporan tersebut, yang diprakarsai oleh Thomson Reuters bekerjasama dengan DinarStandard, Indonesia memiliki wilayah pertumbuhan pariwisata yang besar dengan perkembangan yang dinamis dengan meluncurkan Aliansi Perjalanan Halal Global untuk meningkatkan pariwisata, terutama untuk bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya.
Tiga negara teratas lainnya yang memiliki wisata halal yang berkembang dengan baik adalah Malaysia, Uni Emirat Arab dan Turki. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia masih tertinggal dari Malaysia, yang menunjukkan skor pencapaian sektor yang signifikan sebesar 109, sementara Indonesia masuk pada 46.
Di sisi lain, kementerian terus menyusun daftar strategi untuk lebih mengembangkan atraksi wisata halal di Tanah Air. Indonesia menargetkan untuk menarik 3,8 juta pengunjung muslim pada tahun 2018, dan lima juga pada tahun 2019, yang akan berkontribusi terhadap target 20 juta pengunjung internasional di tahun yang sama.
Menteri Pariwisata, Arief Yahya pun menyatakan bahwa anggaran yang lebih besar dialokasikan untuk pariwisata halal, yang sebagian besar diinvestasikan dalam misi penjualan dan pemran dagang, industri lokal, mempromosikan pariwisata halal dan peraturan yang berkembang untuk memperkuat sektor pariwisata halal setempat.
" Pada 2016 dan 2017, Kementerian Pariwisata bekerjasama dengan Tim Percepatan dan Pengembangan Wisata Halal untuk memobilisasi industri, mengembangkan peraturan dan secara agresif mempromosikan Indonesia sebagai tujuan halal dan ramah keluarga," kata Menpar.
Dia menambahkan, kementerian sedang mengembangkan Indeks Travel Muslim Indonesia, yang memantau kinerja pariwisata halal. Terutama, Indonesia memberikan insentif untuk investasi di sektor pariwisata, termasuk tunjangan pajak, pembebasan bea masuk, pengurangan pajak tanah dan kemudahan perizinan.
Selanjutnya, Indonesia menyoroti dan mempromosikan 5 destinasi wisata halal teratas di Indonesia, yaitu Aceh, Sumatera Barat, Jakarta, Jawa Barat dan Lombok.
Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan nilai wisatawan inbound ke Indonesia dan dalam aspek tata kelola di sektor pariwisata, terutama di bidang insfrastruktur pariwisata.
(Sumber: nowjakarta.co.id)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya