Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
(Foto: Gomuslim.co.id)
Keduanya memutuskan untuk berpetualang ke berbagai negara dengan mengayuh sepeda tandem. Tujuannya untuk menyampaikan pesan damai tentang Islam kepada dunia.
Dream - Kisah pasangan suami istri (pasutri) asal Indonesia ini sangat menginspirasi lho. Mereka bersepeda keliling dunia demi membawa pesan damai Islam.
Adalah pasangan Hakam Mabruri (35 tahun) dan Rofingatul Islamiah (35 tahun). Keduanya memutuskan untuk berpetualang ke berbagai negara dengan mengayuh sepeda tandem. Tujuannya untuk menyampaikan pesan damai tentang Islam kepada dunia.
Dikutip dari gomuslim.co.id, pasangan suami istri tersebut saat ini sudah berada di Mesir. Mereka memulai perjalanan dari Malang, Jawa Timur pada 17 Desember 2016 silam.
Waktu yang ditempuh untuk mengayuh sepeda sekitar 304 hari atau 10 bulan sampai akhirnya mereka melewati perbatasan Yordania dan tiba di Mesir pada Selasa, 17 Oktober 2017 lalu.

Dubes RI untuk Mesir, Helmy Fauzi saat menyambut pasangan suami istri inspiratif itu mengatakan, perjalanan keduanya dalam rangka membawa misi Islam sebagai Rahmatan Lil'Alamin dan rencananya akan diakhiri dengan ibadah umroh di Mekah sebelum akhirnya kembali ke tanah air.
"Kegiatan seperti ini sangat positif dengan membawa nama Indonesia sebagai salah bentuk diplomasi yang dapat dilakukan oleh warga Indonesia. KBRI Kairo akan memberikan bantuan dan dukungan yang dibutuhkan selama Hakam Mabruri dan istri berada di Mesir," ujarnya seperti dilansir dari publikasi KBRI Kairo.
Bagi Hakam Mabruri, perjalanan kali ini merupakan yang pertama kalinya mengajak sang istri, setelah sebelumnya melakukan beberapa petualangan dengan sepeda seorang diri. Sedangkan bagi Rofingatul Islamiah perjalanan ini sebagai bentuk pengabdiannya mendampingi suami, sekaligus guna memperkuat sikap tawakal mereka sebagai keluarga kepada Allah SWT.

Hakam Mabruri dan istri menuturkan kendala terbesar yang mereka hadapi selama perjalanan adalah perbedaan bahasa sebagai media komunikasi dengan penduduk lokal, khususnya pada saat melewati kota-kota kecil yang masyarakatnya jarang bisa berbahasa Inggris. Apalagi Hakam Mabruri mengaku kemampuan Bahasa Inggrisnya yang terbatas dengan istilah '50–50'.
"Meski ada kendala bahasa, masalah itu dapat diatasi dengan 'bahasa hati'. Saya yakin semua manusia punya perasaan dan hati untuk mengerti semuanya," ujar Hakam Mabruri.
Dengan berbekal bahasa hati dan Bahasa Inggris yang terbatas itu, Hakam Mabruri dan istri diterima dengan baik oleh banyak penduduk lokal yang ditemuinya selama perjalanan. Mereka menerima banyak bantuan selama perjalanan dari penduduk lokal baik dalam bentuk penginapan gratis maupun makanan.
(Sumber: gomuslim.co.id)