Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Berhenti Makan Gula Bikin Pusing dan Mudah Marah? Ini Cara Meredakan Gejalanya
Wakakusa Yamayaki (Foto: Nagoya Taro/Wikimedia)
Dream - Menyalakan kembang api, kerap menjadi tradisi dalam merayakan sesuatu. Seperti yang dilakukan masyarakat Kota Nara, Jepang yang mempunyai kebiasaan unik merayakan festival kembang api di atas sebuah gunung.
Tepat di belakang kota berdiri sebuah bekas gunung berapi yang sudah tua. Gunung yang kini hanya menyisakan ketinggian 350 meter ini dinamai Wakakusa. Padahal dulu, gunung Wakakusa ini terkenal sebagai destinasi yang ramai dikunjungi wisatawan.
Saat tiba di puncaknya, wisatawan dapat menyaksikan pemandangan seluruh kota tanpa terhalang. Biasanya, gunung akan tertutupi oleh rerumputan. Kemudian pada awal April, lereng-lereng gunung akan ditumbuhi pohon ceri yang bermekaran.
Kemudian, pada saat mendekati musim dingin, rerumputan akan mulai mati dan daun-daun pohon ceri mulai berguguran. Kala itu kondisi Wakakusa terlihat seperti pegunungan yang gundul.
Nah, pada saat itulah masyarakat setempat akan merayakan Festival Yamayaki. Biasanya, festival ini berlangsung pada Sabtu keempat bulan Januari. Nyala api akan bertebaran di atas rumput mati. Peristiwa ini dikenal sebagai Yamayaki yang secara harfiah berarti 'gunung panggang'.
Asal-usul tradisi Wakakusa Yamayaki tidak pernah diketahui secara jelas dari mana asalnya. Namun, kebiasaan ini diduga berasal dari perselisihan di antara dua kuil, Todai-ji dan Kofuku-ji pada tahun 1760.
Pada saat mediasi keduanya gagal, maka dikeluarkan keputusan bahwa semua gunung harus dibakar.
Saat ini, tradisi ini dirayakan oleh Candi Todaiji, Candi Kofukuji, dan Kuil Kasuga. Perayaan dimulai dengan upacara penyalaan obor di Kuil Kasuga Taisha. Lalu, api dibawa dalam parade menuju kaki gunung, di tempat api unggun besar itu menyala. Di atas gunung telah diletakkan enam kembang api paling spekatakuler.
Setelah kembang api lengkap, rerumputan di gunung mulai dibakar. Pembakaran dapat dilakukan beberapa lama mulai dari 30 menit hingga satu jam. Tergantung seberapa kering rumput-rumput di sana, dan percikan api dapat disaksikan oleh seluruh masyarakat di Kota Nara.
(Sumber: Amusingplanet.com)
Advertisement
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Pertamina dan MedcoEnergi Ambil 10% Hak Partisipasi Sumur Gas di Kaltim Milik Eni S.p.A

Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan


Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor

Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym


5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?